
Beijing, China – Pemerintah China menghadapi tantangan baru dalam krisis demografi, di mana semakin banyak warganya yang menunda atau bahkan menolak menikah. Fenomena ini telah menimbulkan kekhawatiran besar, mengingat dampaknya yang bisa berujung pada penurunan populasi jangka panjang dan perlambatan pertumbuhan ekonomi.
Menurut data terbaru dari Kementerian Urusan Sipil China, jumlah pernikahan yang tercatat pada tahun 2024 menurun drastis hingga 6,8 juta pasangan, angka terendah dalam beberapa dekade terakhir. Penurunan ini menambah kekhawatiran setelah sebelumnya China sudah lebih dulu mengalami krisis angka kelahiran yang membuat populasi negara itu mulai menyusut sejak 2022.
Pemerintah China kini tengah mencari berbagai cara untuk mendorong generasi muda agar lebih tertarik menikah dan memiliki anak, namun tampaknya upaya tersebut menghadapi tantangan besar.
Mengapa Orang China Ogah Menikah?
Banyak faktor yang berkontribusi terhadap menurunnya minat pernikahan di China, mulai dari beban ekonomi, perubahan pola pikir generasi muda, hingga tingginya tekanan sosial. Berikut adalah beberapa faktor utama yang menyebabkan fenomena ini:
1. Biaya Hidup dan Pernikahan yang Tinggi
Salah satu alasan utama adalah mahalnya biaya hidup dan pernikahan di China.
- Harga properti di kota-kota besar seperti Beijing, Shanghai, dan Shenzhen sangat mahal, sehingga banyak anak muda merasa tidak mampu membeli rumah untuk memulai kehidupan berumah tangga.
- Menurut laporan, rata-rata biaya pernikahan di China bisa mencapai 300.000 yuan (sekitar Rp660 juta), termasuk mahar, pesta, dan properti.
Akibatnya, banyak pasangan yang memilih menunda pernikahan atau bahkan membatalkannya karena merasa belum siap secara finansial.
2. Perubahan Gaya Hidup dan Prioritas
Generasi muda China, terutama yang lahir di era 1990-an dan 2000-an, memiliki prioritas hidup yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya.
- Banyak dari mereka lebih memilih mengembangkan karier, mengejar pendidikan tinggi, atau menikmati kebebasan hidup tanpa komitmen pernikahan.
- Individualisme dan self-improvement semakin menjadi tren di kalangan anak muda, yang membuat mereka lebih nyaman hidup sendiri dibandingkan membangun rumah tangga.
3. Tekanan Sosial dan Ekspektasi Keluarga
Di China, tekanan untuk menikah dan memiliki anak masih sangat tinggi, terutama bagi perempuan yang mendekati usia 30 tahun.
- Perempuan yang belum menikah di usia 27 tahun ke atas sering disebut “sheng nu” (wanita sisa), istilah yang membuat banyak perempuan merasa terbebani.
- Namun, ironisnya, tekanan ini justru membuat banyak perempuan semakin enggan menikah, karena mereka menganggap pernikahan lebih sebagai kewajiban sosial dibandingkan pilihan pribadi.
4. Menurunnya Minat terhadap Memiliki Anak
Banyak pasangan yang enggan menikah karena tak ingin memiliki anak.
- Beban membesarkan anak di China sangat tinggi, mulai dari biaya pendidikan hingga perawatan kesehatan.
- Beberapa survei menunjukkan bahwa generasi muda China merasa memiliki anak adalah tanggung jawab besar yang bisa menghambat kebebasan dan karier mereka.
- Krisis kelahiran di China semakin diperparah oleh fakta bahwa meskipun pemerintah telah mencabut kebijakan satu anak dan memperbolehkan memiliki tiga anak, jumlah kelahiran tetap rendah.
Dampak Besar bagi Masa Depan China
Fenomena menurunnya angka pernikahan ini tidak hanya menjadi persoalan sosial, tetapi juga memiliki dampak ekonomi dan demografi yang serius bagi China.
🔻 Penurunan Populasi dan Krisis Tenaga Kerja
- Dengan semakin sedikit orang yang menikah dan memiliki anak, China menghadapi risiko populasi menua lebih cepat, yang bisa berdampak pada kekurangan tenaga kerja di masa depan.
- Rasio pekerja muda vs lansia semakin timpang, yang bisa menyebabkan tekanan besar pada sistem pensiun dan layanan kesehatan.
🔻 Dampak pada Ekonomi dan Pasar Properti
- Berkurangnya jumlah pasangan menikah juga mempengaruhi industri pernikahan, real estate, dan konsumsi rumah tangga, yang bisa memperlambat pertumbuhan ekonomi.
- Pasar properti di China yang sudah melemah bisa semakin terpuruk, karena lebih sedikit pasangan yang membeli rumah baru.
🔻 Tantangan bagi Kebijakan Pemerintah
- Pemerintah China sudah mencoba berbagai cara untuk meningkatkan angka pernikahan dan kelahiran, termasuk memberikan insentif finansial bagi pasangan yang menikah dan memiliki anak, namun hasilnya masih belum signifikan.
- Beberapa daerah bahkan menawarkan subsidi uang tunai dan kebijakan cuti melahirkan yang lebih panjang, tetapi masih banyak anak muda yang memilih untuk tetap melajang.
Apa Solusi yang Ditawarkan Pemerintah China?
Menghadapi krisis ini, pemerintah China mulai menerapkan berbagai kebijakan untuk mendorong lebih banyak pasangan menikah dan memiliki anak, di antaranya:
✅ Subsidi pernikahan dan kelahiran
Beberapa kota di China mulai menawarkan bantuan finansial bagi pasangan yang menikah dan memiliki anak, meskipun efektivitasnya masih dipertanyakan.
✅ Insentif pajak untuk keluarga muda
Pemerintah mempertimbangkan pengurangan pajak bagi pasangan yang memiliki anak agar beban finansial mereka lebih ringan.
✅ Kampanye perubahan budaya dan sosial
China juga mulai melakukan kampanye untuk mengubah stigma terhadap perempuan lajang dan menormalisasi kehidupan pernikahan yang lebih fleksibel.
Kesimpulan: Krisis yang Butuh Solusi Jangka Panjang
Menurunnya angka pernikahan di China bukan hanya sekadar tren sosial, tetapi juga sebuah masalah nasional yang berdampak luas pada ekonomi dan demografi.
📉 Jika tren ini terus berlanjut, China akan menghadapi krisis tenaga kerja dan populasi menua lebih cepat.
📉 Meskipun pemerintah telah memberikan berbagai insentif, banyak generasi muda yang tetap memilih untuk tidak menikah karena alasan ekonomi dan perubahan gaya hidup.
📉 Untuk mengatasi masalah ini, China perlu menerapkan kebijakan yang lebih inovatif, termasuk reformasi di bidang ekonomi, pendidikan, dan kesejahteraan sosial.
Apakah China bisa membalikkan tren ini dan meyakinkan generasi muda untuk kembali tertarik pada pernikahan? Hanya waktu yang bisa menjawab.