
Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, mengungkapkan bahwa ketidakpastian global tetap tinggi akibat kebijakan tarif impor tinggi yang diberlakukan oleh Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump. Kebijakan tersebut berdampak pada perlambatan laju pertumbuhan ekonomi global.
Perry menjelaskan bahwa ekonomi di kawasan Eropa, Jepang, India, dan China mulai merasakan dampak dari kebijakan tarif impor AS. Hal ini terjadi di tengah permintaan domestik yang belum meningkat akibat rendahnya keyakinan usaha dan melambatnya ekspor. Meskipun demikian, pelemahan pertumbuhan ekonomi China tertahan oleh kebijakan pelebaran defisit fiskal tahun 2025 yang melebihi target.
Dengan perkembangan tersebut, BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia pada tahun 2025 akan mencapai 3,2%. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan tetap baik dalam kisaran 4,7-5,5%. BI akan terus mengoptimalkan bauran kebijakannya untuk menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Selain itu, kondisi ekonomi global yang tidak menentu membuat investor mengalihkan investasinya ke aset yang lebih aman, seperti emas. Perry menyebut bahwa baik di AS maupun regional Asia terjadi penurunan harga saham, sehingga investasi portofolio lebih banyak beralih ke negara maju selain AS dan ke emas.
Secara keseluruhan, meskipun kebijakan tarif impor tinggi AS menimbulkan ketidakpastian dan perlambatan ekonomi global, Indonesia tetap optimis dengan pertumbuhan ekonominya yang diperkirakan berada dalam kisaran yang baik. BI akan terus memantau perkembangan global dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.